December 2, 2008 - admin

Manajemen Konflik

Masih berkaitan dengan dunia kerja, FBCom mencoba menguraikan mengenai manajemen konflik. Setiap kelompok atau komunitas didalam suatu organisasi, ketika didalamnya ada interaksi antara satu dengan yang lainnya, pasti ada kecenderungan untuk timbul konflik. Di perusahaan terjadi interaksi juga antara atasan dengan bawahan, staff dengan staff yang lain, staff dengan customer, dan sebagainya yang dapat menimbulkan konflik. Konflik berkaitan erat dengan perasaan manusia, seperti perasaan diabaikan, disepelekan, tidak dihargai, perasaan kecewa karena kelebihan tekanan kerja dan sebagainya. Sehingga perasaan-perasaan tersebut dapat menimbulkan kemarahan dan keadaan tersebut dapat mempengaruhi kegiatan seseorang, menurunkan produktivitas kerja didalam suatu organisasi/perusahaan dan tidak hal itu seringkali menyebabkan kesalahan yang dilakukan secara tidak sengaja maupun sengaja. Manajemen konflik, membahas bagaimana mengatur atau mengelola konflik itu menjadi hal yang dapat meningkatkan produktivitas.

Perlu diketahui dahulu apa definisi konflik itu;
– Konflik merupakan suatu sikap untuk saling mempertahankan diri, sedikit-dikitnya antara dua kelompok yang memiliki pandangan dan tujuan yang berbeda ketika didalam usaha mencapai satu tujuan sehingga mereka ada diposisi oposisi, bukan kerjasama.
– Konflik merupakan suatu situasi yang terjadi ketika timbul perbedaan cara pandang atau pendapat diantara beberapa orang, organisasi atau kelompok.

Konflik dapat diubah menjadi suatu sumber energi dan kreativitas yang positif jika dapat dikelola dengan baik. Seperti konflik agar dapat menggerakan suatu perubahan-perubahan :
– Memberikan saluran baru untuk saling berkomunikasi.
– Menghasilkan distribusi/pembagian sumber daya yang lebih merata didalam suatu organisasi.
– Menumbuhkan semangat yang baru kepada anggota organisasi (karyawan/staff)
– Menumbuhkan dan membantu setiap anggota agar saling memahami perbedaan pekerjaan serta tanggung jawab.
– Memberikan saluran kesempatan agar dapat menyalurkan perasaan emosi.

Tetapi jika konflik sudah mengarah ke arah destruktif, maka hal ini malah bisa membuat penurunan efektivitas kerja, baik didalam kelompok atau individu, bisa dalam bentuk resistensi perubahan, penolakan, tak peduli, apatis, bahkan bisa dalam bentuk demonstrasi.

Apabila konflik mengarah pada kondisi destruktif, maka hal ini dapat berdampak pada penurunan efektivitas kerja dalamĀ  organisasiĀ  baik secara perorangan maupun kelompok, berupa penolakan, resistensi terhadap perubahan, apatis, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif, berupa demonstrasi.

Dunia Kerja keluarga / kerja / konflik / manajemen / organisasi / perusahaan /

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Ingin tulisan tampil di F-Buzz.Com website?
ingin blog anda untuk lebih dikenal dan lebih banyak pengunjung?
Klik disini
'