Di seri yang telah memasuki seri ketiga ini mengenai kebiasaan bayi yang terbawa hingga batita ini, kebiasaan yang perlu diubah ketika anak telah melewati usia batita, yaitu:

4. Ngeces  
Ngeces atau mengeluarkan air liur tanpa kontrol lazim dilakukan oleh bayi karena kemampuan mereka mengontrol air liur memang belum sempurna. Apalagi anak yang memang produksi air liurnya relatif banyak, hingga didalam tenggang waktu sebentar saja air liurnya menetes tanpa disadarinya. Kebiasaan ini masih dikategorikan wajar di usia batita
awal atau sampai diusia 1,5 tahunan. Setelah usia itu, orang tua sudah harus waspada karena biasanya batita di usia tersebut sudah bisa diajak berkomunikasi dan melakukan imitasi atau peniruan pada orang dewasa.
 
Dengan melalui komunikasi orang tua dapat menginstruksikan anak, misalnya, “Hayo, Adek ngeces lagi ya. Coba dilap dong.” Pada fase imitasi, orang tua dapat contohkan bagaimana menelan dan menghapus air liurnya. Melalui latihan terus-menerus, diharapkan anak bisa belajar bagaimana mengelola produksi air liurnya. Memang proses ini akan membutuhkan waktu, tidak bisa bersifat instan. Ketika setelah berhasil pun, orang tua tetap harus memperhatikan dan
mengingatkan si anak. Misal ketika anak sedang asyik melakukan sesuatu tanpa disadari dia ngeces lagi, padahal kebiasaan ini sebelumnya sudah ditinggalkannya. Kalau hanya sesekali ngeces karena ada sesuatu yang mengasyikkannya masih dapat dikategorikan wajar. Tapi bisa dibilang tidak wajar jika hingga usia 3 tahunan si anak belum lepas dari kebiasaan ini. Sebaiknya coba dicek ke dokter, siapa tahu memang ada kelainan.
 
5. Nangis Karena Minta Sesuatu
Menangis merupakan sesuatu hal yang wajar. Tetapi menangis di usia batita bisa dikategorikan tidak wajar bila masih digunakan sebagai cara berkomunikasi.
 
Di usia 2 tahunan, si anak seharusnya sudah dapat berkomunikasi dengan orang lain. Ketika haus, lapar, sakit, dan sebagainya, anak seharusnya sudah dapat mengungkapkannya tanpa menangis. Jadi di usia tersebut kalau menangis masih digunakan sebagai cara untuk menarik perhatian sekelilingnya, hal itu dapat dikategorikan tidak wajar. Berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua sehubungan dengan kebiasaan anak ini:

  • Tekankan pada anak agar mengungkapkan apa yang diinginkannya tanpa dengan menangis. Jika haus, si anak harus bilang haus untuk minta minum, bukannya dengan menangis atau merengek.
  • Orang tua harus tegas, tangisan hanya boleh digunakan untuk mengungkapkan perasaan sedih, sakit, melepaskan emosi dan sejenisnya. Tetapi menangis bukan cara untuk berkomunikasi agar mendapatkan sesuatu seperti halnya yang dilakukan ketika bayi.
  • Konsistensi menjadi penting di sini. Sekali orang tua mengatakan tidak, dilain waktu, besoknya lagi untuk tangisan yang sama orang tua harus tetap mengatakan tidak dan tentu saja harus disertai penjelasan. Sekali saja orang tua tidak konsisten, anak akan belajar memanfaatkan kesempatan dan mencari-cari celah.
  • Reward dan phunishment bisa digunakan dalam kasus ini. Bila anak sudah bisa minta sesuatu tanpa menangis, orang tua dapat melontarkan pujian. Sedangkan bila anak kembali menangis untuk minta sesuatu, anak bisa “dihukum” sesuai kesepakatan yang dibuat bersama.

** Baca seri kelanjutannya di FBCom dan seri sebelumnya (1,2)

Photo: svmomblog.typepad.com

Related Articles