Pada seri keempat ini dari rangkaian artikel “kebiasaan bayi yang terbawa hingga batita ini“, kita membahas mengenai kedekatan yang berlebihan dari si Batita kepada orang yang didekatnya.

6. Kelekatan Yang Berlebihan
Melekatnya bayi dengan orang tuanya, terutama ibu merupakan suatu hal yang normal atau wajar. Di usia ini anak belum bisa menerima keberadaan orang lain karena merasa tidak aman (insecure) bila tidak bersama orang tua, atau significant other seperti pengasuh, kakek-nenek, om-tante yang sering dilihatnya. 
 
Menurut teori Erik Erikson, ketika masa ini sedang terbentuk trust and distrust terhadap lingkungan. Tetapi bila kelekatan ini terus dibawa hingga batita akan menjadi tidak wajar lagi. Ketika anak sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain, maka pada saat itu pula anak mestinya sudah bisa belajar bahwa lingkungannya itu tidak hanya orang tua, pengasuh dan kakek/neneknya, melainkan ada juga orang lain di luar mereka.
 
Anak yang memiliki kelekatan berlebihan dengan orang tuanya, akan “takut” berhadapan dengan orang lain. Padahal ini seharusnya tidak terjadi. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk menyiasatinya:

  • Mulailah kenalkan anak pada lingkungan yang lebih luas, bahwa dunia ini tidak hanya berisi orang tua dan significant other lainnya.
  • Ajak anak bermain tanpa perlu ada attachment langsung.
  • Ajarkan anak agar memberikan salam kepada orang-orang yang ditemuinya. Dengan begitu si anak bisa melihat bahwa orang lain pun tidak “berbahaya” baginya.
  • Minta si anak untuk menjawab pertanyaan orang lain yang diajukan padanya agar akan tumbuh perasaan trust.
  • Bisa juga sesekali anak ditinggal untuk waktu yang agak lama. Dengan begitu anak akan belajar, kalaupun ditinggal orang tuanya, pasti nanti akan kembali lagi.

Bila dibiarkan saja, kelekatan yang berlebihan ini akan merusak kemampuan sosialisasi anak. Anak jadi tidak berani untuk bergaul dengan lingkungan yang lebih luas dan kedepannya kehidupan sosialnya pun akan terganggu.
 
** Baca seri kelanjutannya di FBCom dan baca juga seri sebelumnya (1,2,3)

Photo: photohome.com

Related Articles