Pada seri kedua tentang kebiasaan bayi yang terbawa hingga batita ini, kelanjutan dari kebiasaan yang harus diubah antara lain:
2. Ngompol dan pup di celana
Masih menurut si Freud, di usia batita seorang anak sedang memasuki fase anal, si anak akan mendapatkan kepuasan ketika menahan BAK (buang air kecil) ataupun BAB (buang air besar) sebelum melepaskannya. Untuk fase anal, si anak sampai usia 3 tahun pun masih dapat dikategorikan wajar. Meskipun begitu ketika anak sudah bisa duduk sebaiknya orang tua mulai mengajarkan ‘toilet training’. Mungkin lebih mudah jika diawali dengan latihan BAB di kloset, dibandingkan mengajari anak BAK. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menghentikan kebiasaan BAK dan BAB di celana.
- Biasakan agar setiap bangun pagi segera mengajak anak BAK di kamar mandi.
- Setiap 3 jam sekali dudukkan si anak di kloset, meski dia terlihat tidak ‘kebelet’ BAK tetapi menjelang tidur malam atau ketika terbangun. Meski mungkin ketika itu anak belum ingin BAK tetapi kebiasaan ini dapat membantunya untuk tidak mengompol lagi.
- Jangan terbiasa untuk menolerir kebiasaan anak BAB di celana yang bisa membuat anak mendapat akan kepuasan/pleasure. Jika dari mimiknya anak terlihat mau BAB, segera angkatlah dan dudukkan dia di kloset. Karena jika dibiarkan saja BAB di celana, lama-kelamaan si anak akan merasa ‘keenakan’ dan akhirnya malah si anak tidak bisa BAB di kloset.
- Waspadai juga anak yang sudah lama tidak ngompol tetapi kemudian mendadak ngompol lagi. Mungkin ada masalah psikologis yang sedang dialami oleh anak, seperti traumatic event dan sejenisnya. Tapi kalau hanya sesekali dalam jangka waktu sekian lama tak perlu dikhawatirkan karena bisa terjadi anak hanya kecapekan atau mengalami mimpi buruk. Nah bagaimana caranya orang tua dapat mendeteksi adanya gangguan psikologis yang berakibat dia ngompol lagi? Antara lain jika selama 6 bulan terakhir anak sudah tidak ngompol lagi namun kemudian secara berturut-turut mulai ngompol lagi, besar kemungkinan dia mengalami gangguan psikologis.
- Jangan anggap remeh kebiasaan anak BAK dan BAB di celana. Karena masalah ini akan mendatangkan serangkaian dampak buruk jika terus terbawa sampai tahapan usia selanjutnya. Didalam pergaulannya, sosialisasinya akan terganggu karena dia akan jadi bahan ejekan teman-temannya.
3. Memainkan Alat Kelamin
Ini salah satu lagi kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai batita menurut teori Freud, kenikmatan memainkan alat kelamin. Dalam bahasa psikologinya, tahapan ini diistilahkan sebagai fase phallic. Kebiasaan ini masih dianggap normal, bahkan hingga anak berusia balita. Meskipun dianggap normal, orang tua sebaiknya mengarahkan anak untuk tidak melakukannya. Beri pemahaman ketika anak bisa diajak berkomunikasi. Jelaskan bahwa kebiasaannya ini bisa menyebabkan alat kelaminnya terluka, lecet, kotor, bahkan infeksi jika ada kuman masuk. Anak perlu tahu kalau area di sekitar alat kelamin itu sangat sensitif.
Jika cara tersebut tidak berhasil, maka orang tua dapat mengalihkannya dengan kegiatan lain yang juga dapat memberikannya kepuasan. Misalnya dengan mengajak anak bermain dan sebagainya. Tapi yang harus diingat oleh orang tua agar jangan panik jika menemukan si anak sedang melakukan kegiatan ini. Jangan memarahi si anak apalagi dengan ancaman, karena setiap anak pasti mengalami fase ini.
Akan menjadi masalah jika kebiasaan ini terus terbawa hingga anak besar. Selain lingkungan akan menganggapnya melakukan tindakan tak pantas, si anak pun sebaiknya tahu bahwa kepuasan/kesenangannya dapat diperoleh dengan cara lain, selain dengan memainkan alat kelaminnya.
** Baca terus seri kelanjutannya di FBCom dan seri sebelumnya
Photo: momist.com
Related Articles
*Widget By mfaisal
