Pesan buat para ayah jika mempunyai bayi untuk selalu menjaga sikap didepan bayi. Karena sikap ayah dari waktu ke waktu ternyata dapat mempengaruhi EQ si bayi. Jika si Ayah suka menunjukkan wajal sebal, si bayi konon akan mengamati dan mengikut untuk menampilkan wajah sebal juga. Tetapi jika si Ayah suka cemburu, maka si bayi juga konon begitu juga. “EQ bayi bisa dipengaruhi oleh sikap ayahnya”, nah mari kita baca tulisan berikut ini:
Usia 0 - 3 Bulan
Hubungan emosional bayi dengan ibunya sudah ada sejak dalam kandungan, demikian kata sebagian pakar. Bayi bisa tahu bila ibunya dalam keadaan stres atau tenang. Jika ibu stres, biasanya bayi ikut rewel, cengeng, dan sebagainya. Jika ibunya tenang, bayi pun tenang. Jika saat ini ibu stres akibat kecemburuan ayah terhadap bayi (yang ditunjukkan lewat perbuatan atau kata-kata yang negatif), otomatis, bayi pun bisa merasakannya dan ikut-ikutan stres.
Sebagian pakar lain mengatakan bahwa hubungan bayi dengan orangtuanya mulai terjalin saat ayah ibunya memberinya minum, menggendong, mendekap, dan menenteramkannya. Kualitas hubungan bayi dengan ayah ibunya di masa ini akan mempengaruhi proses perkembangan keterampilan sosialnya nanti. Jika kecemburuan ayah sampai memperburuk kualitas hubungannya dengan bayi, dikhawatirkan buruk pula proses perkembangan keterampilan sosial si kecil nantinya.
Saat berusia 3 bulan, bayi mulai berminat berinteraksi sosial lewat tatap muka, terutama wajah kedua orangtuanya. Ia akan belajar banyak hal lewat pengamatan dan peniruan bagaimana ‘membaca’ dan mengungkap emosi. Inilah tahap untuk secara aktif mulai melatih emosi bayi. Apa jadinya bila ayah sering menampilkan wajah sebal atau malah membuang muka setiap kali bayi menatapnya? Maka bayi akan mengamatinya, membacanya, dan ikut-ikutan sering menampilkan wajah sebal.
Usia 6 - 8 Bulan
Di usia ini bayi mulai menemukan cara baru untuk mengungkapkan perasaan hatinya, semisal sedih, gembira, takut, marah, dan sebagainya di sekelilingnya. Jika sebelumnya ia hanya mampu memikirkan benda atau manusia yang ditatapnya saat itu, sekarang ia sudah bisa memindahkan perhatiannya sambil tetap mengingat objek/manusia tanpa harus menatapnya lagi. Kalau ia senang dengan bola merahnya, ia akan memandang orang tuanya atau orang lain sambil menyampaikan rasa senangnya (lewat senyum, ocehan, atau gelak tawa). Inilah dasar kemampuan untuk bermain dan berinteraksi secara emosional nantinya. Jika bayi lebih banyak merasa sedih/takut pada ayahnya yang galak atau ketus dibakar cemburu, ia akan selalu menatap sekelilingnya dengan ekspresi begitu pula. Mengenaskan, ya!
Usia 9 - 12 Bulan
Di rentang usia ini, bayi mulai memahami bahwa manusia dapat membagi gagasan dan emosi mereka satu sama lain. Bila ayah atau ibu bertanya kepada bayi, “Dedek lagi kesal, ya?”, bayi dapat memahami bahwa orangtuanya ternyata bisa membaca atau mengetahui suasana hatinya. Dengan kata lain bayi mulai memahami bahwa dengan menunjukkan ekspresi tertentu, ia atau orang lain dapat berbagi emosi.
Jika ayah yang cemburu keapda bayi selalu menunjukkan ekspresi negatif (acuh tak acuh, sebal, kesal, dan sebagainya), bayi pun mengetahui suasana hati ayahnya sedang tak bersahabat. Dan jika bayi selalu menjumpai ayahnya dalam keadaan seperti ini, ia pun cenderung menghindar dari sang ayah. Dengan begini, bayi akan kekurangan kasih sayang ayah. Padahal, menurut Robin Skynner, pendiri dan pengajar pada Institute of Family Therapy, Inggris, kehadiran seorang ayah yang penuh kasih sayang di samping bayi kelak akan membantu si bayi menghadapi berbagai masalah dan kelompok yang lebih dari dua orang.
Source: email
Related Articles
*Widget By mfaisal

belum punya.. lagi proses… he2
wew hipotesa yang makyus ….

calon ayah …. nih jadi harus prepare juga dari sekarang
@aha:
Sabar aja ya mas
@afwan:
calon ayah ya? wah selamat.
pandangan pertama itu selalu berpengaruh, termasuk pada bayi
wah baru tau nih, berarti umur 9-12 bulan bayi udah mulai pinter2nya ya
Hmm…harus belajar untuk lebh sabar nich
[...] diri anda sebagai panutan yang baik Anak kecil belajar bagaimana berperilaku dengan mengamati dan meniru perilaku anda. Semakin muda usia anak maka semakin mudah dia menirukan perilaku anda tanpa berpikir [...]
wah boss, mantap bener dah ni artikelnya, ane baru punya bayi, umurna baru 1.8 tahun. selama ini ane nunjukin hal2 yang ada di artikel itu, apakah masi ada cara untuk memperbaiki sikap dan kesalahan ane ya? mudah² masi ada kesempetan lah buat saya….
admin Reply:
September 23rd, 2008 at 10:00 pm
ya dimulai sekarang utk berubah, khan masih 1.8 tahun
rakha sayid aqila Reply:
September 23rd, 2008 at 10:59 pm
amin, mudah2an ane masi ada kesempatan dan masi ada toleransi, sjjr na aq ga begitu memahami dunia anak, yang aq tau anak2 itu ngeggemesin dan kadang bikin jengkel ;))
Thanks for visit
Regards
Bener banget,peran apalagi peran EQ sangat besar di banding IQ…so let’s ensharpen our children from the beginning
admin Reply:
September 25th, 2008 at 11:20 am
Setuju mas
[...] Sebenarnya kebiasaan bisa muncul karena suatu alasan yaitu sebagai suatu cara si anak agar tetap “sibuk” ketika dia sudah mengalami kebosanan. Akan tetapi sebaliknya, sebagian besar anak-anak kebiasaan tersebut biasanya muncul ketika dia merasa tertekan dan dia melakukan kebiasaan itu untuk “menenangkan diri”. Coba cermati dan amati si anak ketika dia mulai melakukan kebiasaan buruknya, apakah dia sebelumnya telah melakukan sesuatu yang menyebabkan dia merasa “tertekan”. Tetapi yang mengejutkan adalah kebiasaan anak tersebut karena dia meniru kebiasaan orang lain yang ada di sekitarnya, ingat kemampuan daya ingat anak. [...]
sekarang saya tahu,sesuatu yg kita lakukan,akan di contoh oleh bayi kita.
Leave a comment