July 18, 2008 - aku

Pasangan Harus Mendukung Pria DE

Disfungsi ereksi atau DE memiliki efek yang sangat berarti bagi hidup seorang pria, termasuk dalam relasi dengan pasangannya. Bahkan, hal ini juga memengaruhi kehidupan seksual pasangannya. Namun, situasi ini sering tidak terkomunikasikan.

Kegagalan komunikasi ini tentu saja bakal memengaruhi hubungan selanjutnya. Di lain sisi, penanganan DE juga menuntut adanya komunikasi dengari dokter yang ahli di bidangnya. Jadi, dalam hal ini penanganan DE mengandaikan adanya trias komunikasi, dengan pasangan, partner, dan sang dokter.

Pengalaman si wanita bisa jadi memengaruhi penanganan maupun pengobatan DE si laki-laki. Para dokter sebaiknya sadar bahwa perhatian si wanita terhadap pasangannya yang menderita DE merupakan potensi yang berarti.

Sebuah penelitian menunjukkan, DE memiliki efek negatif pada pengalaman seksual wanita. Penggunaan terapi PDE5 inhibitor (obat yang digunakan untuk mengembalikan fungsi ereksi) pada pria DE dapat mengurangi efek tersebut. Penelitian ini juga menemukan bahwa dukungan partner atas penanganan DE dapat dipengaruhi dengan perubahan fungsi seksual sesuai pengalaman si wanita.

Demikian diungkapkan Prof. Aksam A. Yassin, MD, Ph.D, EdD FEBU, guru besar urologi dan seksualitas manusia dari Segeberger Kliniken, Jerman, dalam simposium internasional di bidang kedokteran seksual yang baru pertama kalinya diselenggarakan oleh Asosiasi Seksologi Indonesia dan Universitas Hang Tuah, Surabaya.

Seminar yang berlangsung di Hotel Hyatt Regency Surabaya bertajuk Better Sexual Life For Best Quality of Life selama lima hari itu menghadirkan pembicara dari berbagai negara, antara lain Jerman, Singapura, Australia, Taiwan, Austria, Korea, dan tentu saja Indonesia. Ratusan dokter, yakni dokter umum, spesialis andrologi, kandungan atau ginekologi, urologi, ahli hormonal, endokrinologi, kesehatan jiwa dan jantung maupun psikolog, hadir dalam kesempatan ini.

Selanjutnya Prof. Yassin yang berdarah Siria ini menambahkan, penelitian atas kepuasan partner dan kualitas hidup merupakan penelitian prospektif yang cukup unik karena mengeksplorasi perkembangan fungsi ereksi dan berkembangnya kualitas hidup seksual pada pasien pria dan pasangannya. Penelitian juga menunjukkan bahwa Levitra secara berarti memperbaiki DE dan fungsi seksual pada pria DE.

Secara klinis, perubahan penting teramati dalam kualitas hidup seksual pria DE dengan pasangannya dan kepuasan atas penanganan yang dijalani bersama. Dalam penelitian juga terungkap bahwa kualitas hidup seksual pria DE dengan pasangannya membaik cukup berarti dibanding saat DE mulai dirasakan.

Selain pemaparan dari Prof. Yassin, ada puluhan tema lain yang disajikan dalam kongres ini. Yang paling menarik adalah paparan mengenai pentingnya testosteron pada pria di atas usia 50 tahun untuk berbagai keluhan, semisal hilangnya hasrat seksual, mengecilnya otot, meningkatnya lemak tubuh, depresi, anemia, dan pengeroposan tulang.

Testosteron yang pada usia ini tidak lagi diproduksi dalam jumlah memadai dapat diberikan dengan cara injeksi yang dilakukan secara bertahap setiap tiga bulan. Hasilnya, kualitas hidup akan kembali seperti semula, meski tidak sebaik saat masih muda.

Sumber: Senior

Men Health / wanita disfugsi / Ereksi / fungsi / kemampuan / klinis / nafsu / pasangan / pria / testosteron / wanita /

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Ingin tulisan tampil di F-Buzz.Com website?
ingin blog anda untuk lebih dikenal dan lebih banyak pengunjung?
Klik disini
'