Pria Ber-KB? Why Not!

Mitos berkembang, vasektomi mengganggu kesehatan dan fungsi ereksi. Benarkah?
Daniel tertegun saat secara sepintas Nadia menyarankan dia untuk vasektomi. “Gantian dong, KB-nya. Kan, bisa vasektomi,” kata istrinya itu yang dua minggu lalu melahirkan anak ketiga mereka. Manajer di perusahaan komunikasi berusia 38 tahun itu cukup tersentak oleh selentingan istrinya.

la tidak marah. Justru, ia terpikir dampak vasektomi bila ia lakukan. Toh, Daniel bukan tipe pria yang mau menang sendiri. la tak ingin terus-menerus memaksakan istrinya yang berkontrasepsi. Dan, beberapa kontrasepsi tak cocok dengan Nadia. Namun Daniel gamang, apakah vasektomi akan mengganggu kesehatan dan kejantanannya.

Pria ber-KB, memang terdengar “masih” janggal di telinga. Pasalnya, data statistik menunjukkan, wanita lebih dominan dalam aktivitas mengontrol angka kelahiran itu. Uung Kusmana, Humas BKKBN, menyebutkan hasil survei kepada beberapa pasangan di Indonesia yang menyatakan risih jika suaminya ber-KB. “Peserta KB pria hanya 1,3 persen, yang 0,9-nya menggunakan kondom dan sisanya vasektomi,” kata dia, menerangkan.

Istilah vasektomi memang sudah tak asing di telinga kita. Namun, seberapa jauh pemahaman tentang vasektomi itu? Vasektomi atau yang biasa diidentikkan dengan KB pria adalah proses operasi sederhana untuk memotong saluran yang membawa sperma dari kantongnya (testis) ke penis.

Jangan salah paham. Ini bukan seperti memotong pisang. Tindakan ini tergolong operasi kecil, sehingga bisa dilakukan singkat tanpa harus ke dokter bedah. Menurut dr. Agus Mulyono SpU dari RS Kepolisian Pusat Raden Said Sukanto, setelah proses pemotongan tersebut, cairan yang keluar saat berhubungan intim adalah cairan atau lendir dari kelenjar vestikula seminalis dan “kelenjar prostat”. Itu tanpa sel-sel spermatozoa dari testis sebagai faktor utama yang menentukan proses pembuahan,” kata dr. Agus Mulyono.

Program KB ini dimasukkan dalam kategori Mantap, Lestari, atau Permanen. Artinya, jika saluran vas deverens-nya sudah dipotong, laki-laki ini tidak bisa membuahi pasangannya. “Jadi, kalau dia ‘kumpul’ dengan istrinya, kapan saja, tetap istrinya tidak akan hamil,” ujar dokter yang juga berpraktek di RS Khusus Fertilisasi & Menoandropause Sam Marie.

Vasektomi dianjurkan pada pria usia produktif, antara 30-40 tahun. Dr. Agus menambahkan, “Sebelum memutuskan untuk operasi vasektomi, sebaiknya dikonsultasikan terlebih dulu kepada psikolog agar pengambilan keputusannya tidak emosional, tapi dengan pertimbangan matang.”

“Jangan takut, vasektomi tidak merangsang timbulnya penyakit lain maupun mengganggu aktivitas seksual Anda,” kata dia, justru pasien vasektomi cenderung bertambah gemuk. “Memang, secara psikologis pria yang sudah divasektomi akan merasa bebas dan tidak tertekan pasangannya akan hamil.”

Vasektomi tidak mengganggu aktivitas seksual karena yang dipotong adalah saluran vas deferens saja, sedangkan hormon dihasilkan dari testis yang disebul testosteron dan keluarnya tidak melalui saluran itu, tapi masuk ke pembuluh darah. Lantas, menyebar ke organ yang lain. Itu sebabnya tidak ada kaitannya antara vasektomi dan aktivitas seksual. Namun, risiko proses vasektomi tetap ada misalnya infeksi karena operasi. Ini bisa diatasi dengan memperoleh penanganan dokter secepatnya.

Walau vasektomi sifatnya permanen, tak menutup kemungkinan Anda bisa memunyai keturunan lagi. Caranya, dengan melepaskan ikatan pada saluran vas deferens melalui operasi kecil. Hanya, diperlukan waktu yang agak lama untuk kembali normal. Dr. Agus menganjurkan agar setelah operasi pelepasan, pasien mengonsumsi obat-obatan yang merangsang kembali produksi spermatozoa.

Vasektomi juga tak memiliki efek yang bersifat merugikan. Sperma yang diproduksi tubuh pria namun tidak bisa disalurkan karena prows vasektomi tersebut, akan kembali diserap tubuh tanpa menyebabkan gangguan metabolisme. Memang, menurut dr. Agus, beberapa pasiennya mengeluh tentang gangguan terhadap gairah seksual mereka, tetapi itu hanya bersifat psikologis bukan gejala fisiologis.

Mazdadi yang empat bulan lalu memutuskan untuk vasektomi berkisah. “Saya dan istri merasa sehat-sehat saja dan vasektomi memang cara yang tepat untuk pasangan yang ingin ber-KB.” Pria berumur 46 tahun ini sudah mengambil keputusan untuk vasektomi sejak dua tahun lalu. “Bagi saya, ber-KB itu tanggung jawab bersama, bukan hanya mutlak untuk kaum wanita.” Ditambahkan lagi, pria beranak dua ini tidak keberatan untuk berbagi pengalaman dengan pasangan-pasangan lain yang ingin ber-KB. “Sesuatu yang baik, wajib untuk dibagi,” paparnya, mantap. (Meita Annia, Ilustrasi: Tomy B.)

Proses Operasi Vasektomi:
1. Akseptor akan dibius lokal. Kulit yang melingkupi testis disobek kecil untuk diambil saluran spermanya atau saluran vas deferens. Kemudian saluran tersebut diangkat dengan alat khusus.
2. Ujung saluran itu diikat dengan benang khusus dan bagian tengahnya dipotong. Namun ada pula yang hanya diikat tapi tidak dipotong.
3. Saluran sperma tadi dimasukkan lagi dalam buah zakar. Caektomi selesai dikerjakan.
4. Operasi ini hanya memakan waktu 15-20 menit.

5 (lima) Hal Setelah Operasi:

1. Istirahat yang cukup dan dianjurkan selama 7 hari tidak bekerja keras.
2. Usahakan bekas luka tetap kering selama 7 hari serta terus dibersihkan.
3. Jangan lupa minum obat yang diberikan dokter sesuai aturan.
4. Untuk menghindari kemungkinan pasangan Anda hamil akibat sisa-sisa sperma yang terdapat dalam cairan sperma, ada baiknya Anda tetap menggunakan alat kontrasepsi sekitar 3 bulan.
5. Memeriksa ulang ke dokter: 1 minggu, 3 bulan, 6 bulan, dan 1 tahun setelah operasi.

Mereka yang tak cocok metode ini:
1. Penderita kencing manis (diabetes)
2. Penderia hernia
3. Penderita penyakit kulit atau jamur di daerah kemaluan.
4. Penderita kelainan pembekuan darah.
5. Memiliki peradangan pada buah zakar.
6. Orang yang tidak memiliki pendirian yang tetap.

Mereka yang cocok cara ini:
1. Pasangan yang tak ingin menambah jumlah anak.
2. Pasangan yang istrinya sudah sering melahirkan.
3. Memiliki penyakit yang membahayakan kesehatan.
4. Pasangan yang selalu gagal dengan kontrasepsi lain.

6 comments on “Pria Ber-KB? Why Not!

  1. Pingback: Serba-serbi Sperma
  2. rina May 2, 2009 7:24 pm

    saya mau tanya apakah apakah vasek tomi bisa di buka lagi apabila pria itu berkeinginan untuk punya anak lagi.
    terima kasih

  3. hendra April 12, 2012 9:13 pm

    apakah laki-laki yg melakukan vasektomi bisa di sambung lagi apabila
    berkeinginan untuk punya anak lagi.
    terima kasih

  4. adenan July 1, 2012 3:48 pm

    saya ingin punya anak lagi mohon penjelasannya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>