Jangan Takut Sakit Jiwa
Kesadaran masyarakat kita dalam masalah kesehatan jiwa sangat rendah. Meskipun saya pribadi belum mengadakan penelitian resmi, tapi dapat kita lihat bersama dari perbandingan jumlah anggota masyarakat yang pergi ke dokter,klinik medis, maupun rumah sakit ketika mereka mengalami gangguan kesehatan fisik dengan anggota masyarakat yang secara “sukarela” pergi ke Psikolog, Psikiater, atau mengikuti konseling. Hal ini bisa diakibatkan oleh paradigma yang keliru di masyarakat kita yang memandang sempit gangguan kejiwaan dengan sebuah kegilaan (schizophrenia). Orang yang pergi ke psikolog maupun ke psikiater dianggap “gila”. Sehingga amat banyak orang yang enggan berkonsultasi ketika mereka mengalami gangguan kejiwaan ringan karena takut mendapat cap “gila”.
Pendidikan kejiwaan juga amat jarang diberikan pada anggota masyarakat kita. Padahal menurut hemat saya, pendidikan kejiwaan seharusnya diberikan secara sesuai dengan perkembangan usia manusia. Sebagai gambaran, sejak kecil kita selalu dipantau perkembangan kesehatan fisik (medis) kita melalui posyandu, imunisasi, ragam penyakit beserta obatnya, serta berbagai aspek terkatit. Tapi sangat jarang kita mendapatkan informasi mengenai kesehatan jiwa sejak dini. Seolah olah informasi tersebut hanya milik “orang orang kejiwaan” dan kita hanya mendapatkannya jika kita mencarinya di rubrik tanya jawab psikologi dan artikel-artikel di tabloid.
Kurangnya sosialisasi informasi psikologi juga dirasakan pada lemahnya peran lembaga Bimbingan Konseling yang ada di sekolah sekolah. Padahal lembaga tersebut sudah hadir pada jenjang sekolah lanjutan tingkat pertama. Tapi kalau kita tanya pada para siswa seberapa sering mereka masuk ruang BK dan bagaimana pendapat mereka tentang BK, umumnya kita akan mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan karena kurangnya pemahaman mereka tentang fungsi BK itu sesungguhnya. Sehingga BK mendapat stigma sebagai lembaga untuk mengurusi “anak-anak bermasalah”.
Seharusnya kita mulai menyadari bahwa gangguan kejiwaan adalah sebuah gejala manusiawi yang alami sehingga kita memperoleh informasi sejak dini sehingga perkembangan kesehatan jiwa kita selalu terpantau dan terjaga. Jangan tunggu sampai masalah muncul baru kita cari solusinya. “Mencegah lebih baik dari mengobati”. So… jangan takut sakit jiwa, karena sudah banyak orang yang mengalami mencegah dengan berkonsultasi ke Psikolog, Psikiater, atau mengikuti konseling.




Bener bgt tuh, jangan pernah takut untuk sering konsul ma psikolok, ataupun psikiater, karena pada dasarnya manusi itu bermasalah. mending di konsultasi, dari pada dipendem yang ada malah jadi ” GILA ” beneran. yuppy kaN!!!!!!!!!