Saya sempat menghadiri sebuah resepsi pernikahan yang wah…karena dilaksanakan di Convention Hall suatu Plaza dengan jumlah undangan sekitar 1000 orang atau 100 meja.
Saya berpikir mengenai masalah kesiapan dari kedua mempelai untuk berumah tangga. Persiapan yang saya maksudkan di sini tidak hanya mencakup persiapan materi seperti pekerjaan, rumah, uang dst. Tetapi   
yang lebih penting adalah persiapan  mental, emosional, psikologis dan sikap. Sejauh yang saya temui kebanyakan pasangan hanya sibuk menyiapkan acara di hari H tetapi tidak memperhatikan hari-hari setelah itu.

 Baru-baru ini apa yang saya khawatirkan ternyata terbukti. Pasangan yang resepsi pernikahannya saya hadiri waktu itu,  ternyata saat ini sudah pisah rumah. Oh….betapa menyedihkan keadaan  ini. Padahal mereka baru menikah sekitar 7 bulan.
Selidik punya selidik ternyata mereka belum cukup dewasa secara mental, emotional dan sikap. Ternyata sumber keruwetan rumah tangga mereka bukan berasal dari diri mereka sendiri. Lho…koq bisa pisah ?? Hal ini juga yang sempat membuat saya bingung. Ternyata sang suami dan sang istri mendapat pengaruh yang sangat besar dari kedua orang tua mereka, khususnya ibu mereka masing-masing.
 Di sini terlihat bahwa faktor keluarga yang terlalu dominan dan ditambah kedua pasangan itu belum dewasa secara mental akhirnya berakibat fatal. Hal ini patut disayangkan bisa terjadi. Mereka ternyata belum bisa membuat keputusan secara mandiri. Sebenarnya yang punya masalah adalah antara para besan wanitanya. Maksudnya antara ibu si suami dan ibu si istri. Tapi yang kena akibatnya adalah kedua anaknya. Berpisahnya kedua pasangan ini (pisah rumah) juga atas kemauan kedua ibu mereka. Dan yang lebih edan lagi yaitu saat saya mendengar komentar dari ibu si istri di mana ibu ini berkata, “ Kalau mau cerai juga boleh. Mumpung baru kawin 7 bulan dan belum hamil atau punya anak….!” . Edan…….. Lho… yang nikah ini anaknya atau ibunya ya ?? Memangnya pernikahan itu ada “money back quarantee” artinya kalau tidak puas boleh dikembalikan ??

 Melalui kesempatan ini saya hanya ingin menegaskan kembali pentingnya persiapan non material yang harus lakukan oleh mereka yang ingin berumah tangga. Beberapa hal mendasar yang perlu diketahui dan dipegang oleh para pasangan muda ini antara lain :

Tentukan sejak dari awal arah dan tujuan pernikahan
 Saya yakin, dari pengalaman selama ini, apabila kita telah menetapkan arah dan tujuan pernikahan kita maka saat ada “badai” menghantam bahtera penikahan kita, kita tidak akan goyah. Walaupun orang tua kita sendiri yang secara tidak sadar menggoyang rumah tangga kita (contoh dari kejadian di atas, walau tentu tidak semua orang tua seperti itu), kita dapat berdiri tegak dan dengan tegas mengatakan “Tidak” apabila apa yang mereka anjurkan justru akan merugikan diri kita.

Berani bersikap tegas walau itu terhadap orang tua sendiri.
 Sering kali anak bersikap lunak terhadap kedua orang tuanya. Tapi dalam hal rumah tangga kita, orang tua hanya berperan sebagai pengawas dan tempat meminta nasehat. Orang tua tidak berhak turut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Tidak ada maksud agar seorang anak berani menentang orang tua, tetapi menurut saya, sejak kita menikah maka kita telah berdiri sendiri. Ada tertulis, “ Demikianlah  seorang laki-laki akan pergi meninggalkan kedua orang tuanya dan tinggal bersama istrinya ……”. Maksud pernyataan ini lebih ditujukan pada keadaan mental, emosional dan finansial seseorang. Begitu seorang pria memutuskan menikah maka ia harus bertanggung jawab penuh untuk segala hal yang berhubungan dengan dirinya. Ia harus mandiri baik secara finansial, emosional, mental dan sikap dan tidak tergantung pada orang tuanya lagi. Ia sudah tidak boleh lagi bersikap seperti “anak mama”.

Perlunya Seorang Mentor / Pembimbing
 Sering kali pasangan muda akan bingung jika menghadapi keadaan seperti yang saya utarakan di atas. Mereka tidak akan tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan karena begitu dominannya kedua orang tua mereka (terutama ibunya). Dalam keadaan ini sangat perlu bagi mereka untuk meminta pendapat, nasehat dan pandangan dari orang ke-tiga yang netral dan yang bisa mereka percaya sepenuhnya. Saya menganjurkan mereka untuk bisa berbicara dengan seorang Mentor atau Pembimbing. Mentor ini bisa guru agama mereka, atau rohaniawan yang mereka hormati, atau rekan yang lebih tua dan dewasa dan telah berpengalaman dalam hidupnya atau siapa saja yang memang kompeten dan menaruh perhatian yang tulus dalam upaya membantu dan membimbing mereka.

Semakin menyatukan hati , pikiran dan perasaan dengan pasangan anda.
 Bila cobaan datang,  pada masa inilah kekuatan tekad dan cinta di antara pasangan suami istri diuji. Apabila mereka benar-benar telah menyatu baik itu hati, pikiran dan perasaan maka mereka pasti akan lulus dengan baik. Justru ujian ini akan membuktikan kadar cinta mereka. Emas 24 karat tidak takut akan api. Semakin dibakar semakin keluar aslinya. Cinta yang tulus dengan penerimaan kasih yang seutuhnya adalah dasar utama dalam menghadapi setiap persoalan rumah tangga. Jadi gunakan ujian sebagai api yang membakar kemurnian cinta kasih di antara kalian.

Related Articles