Mengapa pria lebih sulit mengekspresikan perasaannya dan mendengarkan pasangannya dibandingkan wanita? Padahal mereka ingin mendapatkan keintiman yang lebih menyenangkan tetapi mereka tidak punya cukup waktu untuk menemukan caranya atau bahkan malu membicarakannya
Sering wanita mengeluh tentang ketidakberhasilan pasangannya untuk menjadi pecinta yang intim. Mereka beranggapan pasangannya tidak mau menceritakan keinginannya. Di sisi lain, pria pun menganggap bahwa keintiman adalah apa yang terjadi saat mereka bercinta. Mereka tidak mengerti mengapa pasangannya tidak mengetahui apa sebenarnya keintiman itu. “Mengapa mesti menceritakan keinginan saya jika telah ditunjukkan?” begitu dalihnya.
Coba tengok sosialisasi yang dialami pria dan wanita selama bertahun-tahun. Seorang anak laki-laki jarang didorong untuk terbuka mengenai perasaannya. Saat tumbuh dewasa, mereka dihargai karena mampu menahan perasaannya, tidak menangis jika terluka, tidak menunjukkan ketakutan walau sedang takut. Jika seorang wanita menghibur sahabatnya yang sedang bersusah hati, ia akan menyimak dengan seksama dan menjadi pendengar yang baik mengenai apa saja yang diungkapkan. Sementara seorang pria dalam situasi yang sama akan mengajak kawannya keluar, bukan mendengarkan tapi untuk melupakannya dengan menghindari masalah sama sekali. Setelah menjalani sosialisasi seperti itu, pria masuk dalam kehidupan perkawinan dengan wanita yang menginginkan dirinya menunjukkan emosi. Walau keduanya saling belajar mengekspresikan perasaan dengan lain cara, pria dan wanita menginginkan keintiman yang lebih dalam perkawinan. Mereka mencari keeratan, kasih sayang dan perhatian. Saat bercinta dalam hubungan yang intim, suami isteri sering merasa lebih puas secara psikologis dan emosional disbanding seks itu sendiri. Terkadang wanita pun mengalami masalah dengan keintiman karena mungkin saja dia dibesarkan dalam keluarga dimana emosi tidak biasa diekspresikan.
Untuk itulah diperlukan pengenalan lebih jauh kepada pasangan hidup Anda. Menyeberangi jurang yang memisahkan keintiman adalah cara yang dianggap bijaksana. Segala penghambat pasti mampu dilepaskan asal ada usaha maksimal. Caranya?
Terimalah pasangan apa adanya
Cobalah mengerti bahwa pria menganggap tindakannya adalah tanda dari perasaannya. Terkadang pria dan wanita berbicara dalam bahasa yang berbeda. Biasanya wanita lebih berorientasi verbal sedang pria lebih pada tindakan.
Doronglah secara positif
Pria tidak berbicara tentang emosi, jadi beresponlah secara positif jika pasangan mengungkapkan perasaannya.
Ketahuilah rasa takutnya
Ada kalanya pria dan wanita merasa takut kehilangan respek dari pasangannya atau takut kehilangan kekuatannya jika mereka mengungkapkan rasa takut dan kecemasannya. Tapi keintiman mengharuskan Anda membuka diri pada pasangan.
Perubahan pasti memerlukan waktu
Pasangan mungkin berniat mengungkapkan perasaannya tapi tentu saja dia membutuhkan waktu untuk mempelajari tindakannya. Jadi jangan ragu untuk memberinya waktu.
Setelah berhasil menemukan jalan bijaksana melampaui hambatan dalam keintiman, kini tiba saatnya Anda memasuki fase-fase dalam keintiman yang lebih dekat lagi yaitu ketika hubungan sudah mengarah pada kedekatan seksual.
Reaksi atau respons seksual yag dialami masing-masing orang merupakan gejala yang wajar. Sebaliknya, justru membingungkan bila seseorang tidak bereaksi ketika mendapatkan rangsangan. Apa saja fase-fase yang dirasakan pria dan wanita bila mendapatkan keintiman?
Pada Pria
1. Fase Rangsangan
Fase ini dimulai pada saat ada rangsangan, seperti ciuman, belaian atau fantasi. Reaksinya bisa cepat bisa lambat tergantung intensitas dan efektivitas rangsangan yang diterima
2. Fase Datar
Di fase ini terjadi penambahan diameter kepala genital dan warnanya berubah menjadi lebih tua. Ukuran biji kemih pun bertambah akibat bendungan aliran darah dan keluar sedikit cairan yang berasal dari kelenjar cowper.
3. Fase Orgasme
Orgasme merupakan fase tersingkat dalam siklus reaksi seksual. Hanya berlangsung dalam beberapa detik, yang ditandai kekejangan otot, sensasi fisik yang kuat, dan diikuti relaksasi yang cepat. Kekejangan otot ini tidak hanya terjadi pada organ genital tapi juga di seluruh otot tubuh lain.
4. Fase Resolusi
Dalam fase ini genital dan bagian tubuh lain yang mengejang kembali normal. Ereksi genital dan ukurannya menurun dan kembali ke keadaan sebelum ada rangsangan. Tanda paling nyata dengan berakhirnya fase ini adalah keluarnya keringat.
Pada Wanita
1. Fase Rangsangan
Ditandai dengan adanya pelendiran genital sebagai akibat bendungan aliran darah pada dindingnya. Pelendiran ini menyebabkan penetrasi berlangsung gmudah dan tidak terasa sakit. Klitoris pun mengalami ereksi, bibir genital melebar dan terangkat, payudara ikut membesar dan menegang.
2. Fase Datar
Pada fase ini bendungan aliran darah yang hebat terjadi pada dinding genital bagian luar. Reaksi ini disebut orgasmic platform. Akibatnya, sepertiga genital bagian luar mengalami penyempitan sekitar 30% atau lebih. Disinilah letak G Spot yang terkenal paling peka rangsangan itu. Sementara dua pertiga bagian dalam genital yang telah memanjang pada fase rangsangan menjadi melebar pada fase ini.
3. Fase Orgasme
Reaksi yang terjadi bersifat total di seluruh tubuh, tidak terbatas pada organ genital saja. Orgasme pada perempuan dapat terjadi berkali-kali asalkan rangsangan tetap diterima. Akan tetapi, sebagian perempuan hanya mencapai orgasme sekali. Rangsangan G Spot menghasilkan orgasme berbeda dibandingkan rangsangan klitoris.
4. Fase Resolusi
Di fase ini, orgasmic platform menghilang sementara genital kembali menyempit dan memendek, klitoris dan rahim kembali ke posisi semula. Payudara pun kembali ke bentuk dan ukuran awal.
