Sebuah studi melaporkan bahwa wanita yang menggunakan viagra akan semakin mudah mencapai orgasme. Bahkan, pelumasan (lubrikasi) menjadi semakin baik, sensasi semakin tinggi. Dilaporkan juga bahwa obat tersebut berfungsi paling baik pada wanita yang gangguan seksualnya berasal dari masalah-masalah fisik-bukan emosional.
Masalah tersebut berkaitan dengan usia seperti menopause atau keluhan paska operasi setelah histerektomi. Dan, viagra tampaknya juga bekerja pada wanita seperti yang terjadi pada pria, karena apa yang dilakukan viagra ialah menaikkan aliran darah ke daerah alat kelamin-dan aliran darah merupakan faktor yang sangat penting untuk membangkitkan gairah seksual wanita.
Studi tersebut juga melaporkan sekitar 30 sampai 50 persen dari wanita yang menjadi responden mengatakan mereka tertolong oleh viagra-hasilnya beragam menurut dosis. Sekitar 43 persen dari mereka yang mengkonsumsi plasebo, atau pil gula, juga mengatakan mereka tertolong.
Bahkan, disimpulkan bahwa viagra tampaknya aman untuk wanita. Salah seorang wanita yang dijadikan responden bahkan menggambarkan seks sebagai “lebih merupakan tugas atau pekerjaan” sebelum menggunakan viagra. Namun setelah itu sikap wanita itu berubah drastis dan viagra menurutnya sangat menyenangkan dalam hidupnya.
Viagra yang diketahui merupakan pil pertama untuk mengobati impotensi membuat berita besar pada tahun 1998 ketika obat itu disetujui di Amerika Serikat untuk menolong pria. Dan sungguh menakjubkan pil ini mencatat penjualan sebesar 1 miliar dollar tahun lalu.
Juga ditegaskan, tes-tes awal juga menunjukkan bahwa pil kecil berwarna biru ini ternyata tidak menolong wanita yang menderita disfungsi seksual, seperti sulita untuk merasa terangsang.
Sebagaimana dikemukakan peneliti, Rosemary Basson, mempelajari rangsangan seksual adalah lebih sulit pada wanita daripada pria. Dia juga menambahkan bahwa masih ada kemungkinan bahwa viagra dapat membantu para wanita dengan beberapa jenis masalah rangsangan seksual yang disebabkan karena kurangnya aliran darah ke daerah genital.
Mereka juga mengungkap, standar untuk mengukur seksualitas tidak seimbang, sama seperti standar kecantikan di media. Itu sebabnya, beberapa peneliti mengatakan usaha untuk menciptakan sarana mengukur secara fisik fungsi seksual pada wanita. Pada pria, fungsi seksual mudah diukur-ereksi jelas dapat dilihat. Pada wanita, justru lebih sulit mengungkapnya. Jadi, ini merupakan ‘PR’ para peneliti mencari solusi.

Related Articles