Sebagai kebutuhan biologis, seks memiliki keunikan tersendiri. Di satu pihak ia menuntut adanya pemenuhan secara wajar sebagaimana kebutuhan primer lainnya. Di pihak lain kebutuhan itu tidak selalu konsisten. Ada kalanya desakan itu sangat luar biasa sehingga tak dapat ditahan-tahan, tetapi kali lain nihil, tak ada dorongan sama sekali. Dan di saat yang lain lagi tuntutan kebutuhan itu biasa-biasa saja.
Pasang surut kehidupan seksual akan terjadi pada setiap orang. Hal ini bisa terjadi secara alami dalam konteks pertambahan usia. Tetapi tak jarang pula pasang surut itu disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti kejiwaan, penyakit, ekonomi, politik, perubahan sosial budaya, dan sebagainya.
Pengantin Baru
Kebutuhan seks bagi pengantin baru yang sedang berbulan madu boleh jadi sedang dalam puncaknya. Pada saat ini hasrat birahi memang sangat menggebu-gebu sehingga frekuensi hubungan intim yang dilakukan cukup tinggi. Di samping itu pengalaman pertama akan kenikmatan seksual cenderung membuat mereka ingin mengulang dan mengulang lagi.
Besarnya luapan hasrat seksual itu masih didukung sepenuhnya oleh organ-organ seks yang masih berfungsi sempurna. Baik peralatan laki-laki maupun milik perempuan masih sama-sama “tokcer” sehingga hubungan intim yang dilakukan tak terhambat oleh sesuatu gangguan fungsi reproduksi. Termasuk kondisi fisik mereka yang masih cukup kuat, masih cukup energi untuk merealisasikan hasrat tersebut semaksimal mungkin, sepuas mungkin.
Faktor pendukung lainnya adalah belum banyaknya beban kehidupan rumah tangga. Mereka belum banyak terbebani oleh tetek bengek urusan keluarga sehingga hidup masih terasa lebih enteng dan karenanya lebih memungkinkan mereka untuk menikmati kesenangan-kesenangan mereka sendiri.
Menurun
Setelah dua atau tiga tahun, ketika si kecil sudah mulai nongol, ketika bahtera rumah tangga semakin dihadapkan pada keruwetan, maka frekuensi kegiatan seksual pun menurun. Penurunan itu tidak terjadi secara tiba-tiba melainkan setahap demi setahap sehingga kemungkinan mereka tidak menyadarinya. Misalnya kalau sewaktu berbulan madu mereka melakukan hubungan intim sampai beberapa ronde dalam satu malam, maka setelah beberapa bulan berjalan mereka hanya melakukannya dua ronde semalam, lalu menurun lagi menjadi satu ronde dan bahkan kadang ada malam-malam yang dilewatkan begitu saja tanpa aktifitas seksual.
Pada masa-masa seperti ini kehidupan seksual sudah mulai dipengaruhi oleh faktor lain yang tak ada hubungannya langsung dengan kegiatan itu. Salah satu diantaranya yang paling kuat sekaligus paling umum terjadi adalah faktor ekonomi. Ada anggapan bahwa keluarga yang ekonominya baik, hubungan seksual antara suami istri juga akan baik, demikian sebaliknya. Dugaan ini mengacu pada asumsi bahwa semakin buruk keadaan ekonomi keluarga semakin banyak perhatian, waktu, tenaga dicurahkan pada masalah itu sehingga ada kemungkinan aktifitas seksualnya terbengkalai. Misalnya, seorang suami yang bekerja sebagai buruh kasar pada malam harinya kondisi fisik sudah dalam keadaan payah sehingga perlu istirahat yang cukup. Di samping itu ia akan takut kehilangan energi bila melakukan aktifitas seksual karena esok harinya ia harus peras keringat banting tulang. Situasi ini akan lebih parah lagi jika istrinya disibukkan oleh pekerjaan sehingga ia pun kehilangan hasrat seksualnya.
Tetapi dugaan itu tidak selalu benar. Ada juga suami istri yang hubungan seksualnya tetap lancar walau keadaan ekonomi keluarga dilanda krisis. Atau ini merupakan pengecualian?
Dewasa
Semakin panjang rentang waktu yang dilalui, suami istri akan semakin matang (tentu saja dengan asumsi perjalanan rumah tangga mereka tidak mengalami gangguan yang berarti). Mereka semakin mengerti hubungan seks yang sebenar-benarnya. Dalam hal ini kualitas hubungan lebih diutamakan. Mereka sudah tidak berkeinginan ngebut tiap malam. Seminggu dua kali bolehlah, asal hubungan intim tadi benar-benar intensif dalam kepenghayatan. Pendek kata, kuantitas boleh menurun asal kualitasnya meningkat.
Begitulah, pasangan yang telah bertahun-tahun menjalin kebersamaan, kehidupan seksualnya boleh dibilang telah dewasa. Sebagaimana kedewasaan manusia, disamping karifan ia juga semakin banyak mengakses berbagai persoalan hidup. Demikian halnya kedewasaan dalam kehidupan seks. masalah-masalah yang mempengaruhi (baik mendukung atau merintangi) juga semakin komplek. Mulai dari rutinitas keseharian sampai memikirkan masa depan anak-anak, hari tua, kematian, dan sebagainya.
Dalam situasi seperti itu sulit menentukan apakah kehidupan seksual mereka sedang pasang atau surut. Tergantung dari sisi mana kita memberi penilaian. Di samping itu yang terpenting lagi adalah kemauan pasangan yang bersangkutan. Apakah mereka masih berkeinginan membina hubungan seksual atau menyudahi sampai disitu saja (misalnya karena ingin lebih tekun beribadah demi bekal hidup di akherat).
Lingkungan
Pasang surut kehidupan seksual, lepas darai perjalanan waktu, juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan alam maupun lingkungan social. Bencana alam yang dahsyat misalnya, atau peperangan, atau kelaparan, dan sebagainya, akan menimbulkan dampak menurunnya aktifitas seksual penduduk secara umum. Perubahan sosial budaya juga akan menimbulkan dampak yang sama. Artinya kebudayaan yang terlalu menabukan seks kemungkinan membuat orang antipati terhadap aktifitas tersebut. Sementara kebudayaan yang bebas nilai bisa membuat orang memuja seks.

Related Articles