Kementerian Kesehatan Tiongkok mengeluarkan perintah siaga nasional Sabtu (3/5) karena merebaknya virus maut yang telah merenggut jiwa 23 anak-anak di satu kota dengan cepat. Peningkatan kesiagaan dilakukan karena melonjaknya kasus penyakit yang disebabkan enterovirus 71 atau EV-71, satu jenis penyakit kaki, mulut, dan tangan. Fenomena itu harus diantisipasi dengan cermat dan cepat oleh masyarakat, khususnya pihak Departemen Kesehatan. Bukankah penyakit SARS dan flu burung juga diawali terjadinya di daratan Asia tersebut, tetapi justru di Indonesia penyakit itu lebih sulit dikendalikan.
Infeksi Kaki Tangan dan Mulut
Dalam masyarakat, infeksi virus tersebut sering disebut sebagai ”Flu Singapura”. Dalam dunia kedokteran, itu dikenal sebagai hand, foot, and mouth disease (HFMD) atau penyakit kaki, tangan, dan mulut (KTM). Penyakit KTM adalah infeksi yang disebabkan virus RNA yang masuk famili picornaviridae, genus enterovirus. Genus yang lain adalah rhinovirus, cardiovirus, apthovirus. Di dalam genus enterovirus terdiri atas coxsackie A virus, coxsackie B virus, echovirus, dan enterovirus. Penyebab KTM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah enterovirus 71. Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. KTM adalah penyakit umum yang biasa terjadi pada kelompok masyarakat yang sangat padat dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun.
Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang, yaitu melalui droplet, pilek, air liur, tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor, tetapi ada pembawa penyakit seperti lalat dan kecoak. Penyakit KTM mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh virus strain enterovirus lainnya. Penyakit tangan, kaki, dan mulut adalah penyakit umum dan penyebarannya dapat terjadi di antara kelompok anak. Misalnya, di sekolah atau di tempat penitipan anak. Penyakit tangan, kaki, dan mulut biasanya tersebar melalui hubungan sesama manusia.
Virus tersebut tersebar dari kotoran seorang yang terkena ke mulut orang lain lewat tangan tercemar, tapi bisa juga disebarkan lewat lendir mulut, atau sistem pernapasan, dan sentuhan langsung dengan cairan di dalam lepuhnya. Virus itu bisa berminggu-minggu berada di dalam kotoran.
Manifestasi Klinis
Penyakit tangan, kaki, dan mulut yang ringan biasanya disebabkan coxsackievirus. Anak usia di bawah 5 tahun sering terkena infeksi virus tersebut, meskipun pada orang dewasa dapat juga terjadi. Infeksi coxsackievirus mungkin sama sekali tidak menunjukkan gejala atau hanya ringan. Gejala penyakit diawali dengan demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti nyeri tengorokan atau infeksi tengorokan (faringitis), sulit makan dan minum karena nyeri akibat luka di mulut dan lidah. Kadang juga gejalanya disertai sedikit pilek atau gejala seperti flu. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus atau luka dimulut seperti sariawan di sekitar lidah, gusi, pipi sebelah dalam, terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan. Bersamaan dengan itu timbul rash atau ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki. Kadang-kadang rash atau ruam (makulopapel) ada di bokong.
Bayi atau anak usia di bawah 5 tahun yang timbul gejala berat harus dirujuk ke rumah sakit. Gejala yang dianggap berat adalah hiperpireksia (suhu lebih dari 39oC) atau demam tidak turun-turun, denyut jantung sangat cepat (tachicardia), sesak, malas makan minum, muntah atau diare dengan dehidrasi, badan sangat lemas, kesadaran turun, atau kejang-kejang. Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit itu adalah infeksi selaput otak atau meningitis (aseptik meningitis, meningitis serosa, atau nonbakterial), infeksi otak atau encefalitis (bulbar), infeksi otot jantung atau miokarditis (coxsackie virus carditis) dan perikarditis, paralisis akut flasid (polio-like illness), infeksi paru atau pneumonia. Risiko ancaman jiwa lebih sering terjadi pada infeksi enterovirus 71, sedangkan virus coxsackie sangat jarang terjadi ancaman jiwa kecuali pada penderita dengan kondisi daya tahan tubuh yang menurun.
Pencegahan
Pinjam-meminjam cangkir, sendok, garpu, alat kebersihan pribadi, misalnya handuk, lap muka, sikat gigi, dan pakaian, terutama sepatu dan kaus kaki, adalah perilaku yang berpotensi mempercepat penyebaran penyakit tersebut. Anak yang terkena penyakit tangan, kaki, dan mulut seyogianya jangan dulu ke sekolah atau tempat penitipan anak sampai lepuhnya mengering. Penyakit itu sebaiknya dilaporkan kepada pengurus tempat penitipan anak atau kepala sekolah untuk dilakukan pencegahan dengan baik.
Seperti halnya infeksi virus pandemi yang lain, seperti SARS atau flu burung, fenomena infeksi enterovirus 71 di bagian selatan Tiongkok tersebut sangat berpotensi menyebar ke Indonesia. Paling tidak Departemen Kesehatan dan berbagai jajarannya, termasuk tenaga medis di Indonesia, harus cepat mengantisipasi hal tersebut. Tindakan yang mungkin segera dapat dilakukan pemerintah ialah melakukan traveller warning kepada masyakat Indonesia yang berkunjung ke daerah yang berpotensi terjadi penularan.
Akibat penyebaran penyakit itu, pemerintah Tiongkok telah memberikan hukuman kepada sejumlah pejabat yang dianggap lalai dalam tugasnya mengeiliminir serangan penyakit. Salah satu contoh wilayah yang telah memberikan sanksi kepada pejabatnya akibat lambanya penanganan yang menyebabkan kematian adalah pemerintah Provinsi Anhui.
Informasi dari Kantor Berita Xin Hua, lima pejabat lokal di Desa Anhui telah diberi peringatan keras karena terlambat menyebarluaskan informasi tentang penyakit berbahaya itu. Bahkan Dokter Wang Dongjun, salah seorang dokter di salah satu desa yang ada di Provinsi Anhui telah didenda sekira Rp5 juta karena menyuntikkan Globulin kepada 17 anak.
Kepada pasiennya, dokter ini mengatakan cairan yang disuntikkan dapat menyembuhkan penyakitnya. Dokter ini telah mengambil keuntungan dari serangan penyakit sehingga mendapat sanksi membayar denda.
Selain Dokter Wang Dongjun, dua dokter di salah satu rumah sakit yang ada di Kota Fuyang juga dihukum karena telah memberi resep yang salah. Pelayanan yang layak tak diperoleh pasien yang terkena virus EV-71 itu.
(padang express)
Related Articles
*Widget By mfaisal

mas yang diatas itu cnth virusnya y
Leave a comment