Satu hal yang paling hilang dalam pemahaman kita terhadap seks adalah makna damai di dalamnya. Damai di antara sesama manusia. Seks dengan jelas memperlihatkan makna ini bila kita mau memperhatikannya dengan cermat. Simak saja: aktivitas seks adalah aktivitas antara dua manusia yang bersifat saling membutuhkan, saling melengkapi, dan saling memberikan, apapun latar belakang dan motivasi dan jenisnya. (Kecuali pada kasus pemerkosaan yang memang lebih merupakan tindak kekerasan).
Kenyataan sifat dari aktivitas seksual ini jelas-jelas mengajarkan bahwa makna dari aktivitas ini adalah agar kita: saling menghormati, saling menolong, saling menerima (segala perbedaan) antara sesama kita, dan mempersatukan sesama manusia (karena di dalam seks dua orang bersetubuh menjadi satu) dalam hubungan yang setara (karena kita saling membutuhkan dan saling melengkapi). Coba Anda lakukan, Anda penuhi semua pesan implisit dari aktivitas seksual ini, maka pastilah damai akan tercipta di antara kita.  Saya berani menjamin hal ini. Sayangnya, makna ini rupanya benar-benar hilang dalam pemahaman kita terhadap seks. Akibatnya, semua aktivitas seksual kita menjadi mekanis belaka, rutin belaka. Kita seolah telah menjadi mesin-mesin reproduksi dalam melakukannya.
Kita melakukannya dengan tanpa perasaan atau kita melakukannya hanya dengan nafsu kebinatangan saja. Kita melakukannya dengan monoton. Kalaupun tidak, kemungkinan lainnya adalah aktivitas itu telah menjadi hanya sekadar sebuah ritual-seremonial saja. Kita melakukannya seperti pegawai negeri yang melakukan upacara bendera setiap hari senin atau seperti anak-anak sekolah dalam upacara yang sama.
Hanya untuk kesenangan
Kemungkinan lain lagi: kita melakukannya hanya untuk pengejaran kesenangan belaka. Kita melakukannya dengan prinsip hedonis tulen sehingga dalam kemungkinan ini, kita akhirnya menjadi manusia-manusia budak nafsu. Dan kita terpenjara dalam birahi kita. Kita hanya peduli pada kesenangan dan kepuasan kita, kita tak sedikitpun peduli apakah pasangan kita ikut senang atau tidak. Bahkan bila kita harus senang di atas penderitaan pasangan kitapun, itu tak menjadi soal lagi. Jelas kemungkinan ini sama buruknya.

Seharusnya kemungkinan-kemungkinan buruk itu tak perlu terjadi. Tak perlu menguasai pemahaman dan perilaku seksual kita. Tapi nampaknya justru kemungkinan-kemungkinan itu semakin merajalela dewasa ini. Kita bahkan menjadi sangat sulit untuk berbicara, berkomunikasi satu sama lain. Kita tak punya lagi kemauan untuk saling mendengarkan dan mencoba mengerti.
Komunikasi telah menjadi suatu hal yang teramat sulit. Ini bisa terlihat dengan jelas di dunia panggung politik negeri kita saat ini. Tentu kenyataan ini sangat memprihatinkan. Dalam situasi semacam ini, makna damai dalam seksualitas kita pasti semakin menjauh entah kemana.
Lantas apakah yang bisa kita lakukan untuk menemukan kembali makna damai itu? Sejujurnya saya tak tahu. Saya hanya bisa merasakan betapa makna itu nyata ketika terjadi konflik atau ketegangan antara saya dan pasangan saya lalu pada puncaknya ternyata hubungan sekslah yang mencairkan konflik atau ketegangan itu. Ini nyata. Riil. Jadi barangkali, kita hanya perlu back to basic saja.
Kembali pada kodrat sosial kita dan menjadikannya sebagai landasan hubungan kita dengan sesama. Bahwa kita pada dasarnya memang tak kan pernah bisa hidup sendiri. Bahwa kita pada dasarnya selalu membutuhkan orang lain. Itu saja barangkali. Atau memang hanya itulah sebenarnya akar persoalan kita saat ini. Dalam krisis saat ini. But anyway, dalam tulisan ini saya mengucapkan selamat natal bagi yang natal-an, selamat hari raya idul fitri (mohon maaf lahir batin) bagi yang ber-lebaran, dan selamat tahun baru 2001 bagi semuanya. Semoga damai kan terwujud pada tahun 2001 ini.

Related Articles